Wonogiri, 7 September 2026 | Humas PPIT Al-Huda
WONOGIRI – Ahad, 6 September 2026 Pondok Pesantren Islam Terpadu Al-Huda Wonogiri mengadakan agenda rutin bulanan berupa penjengukan santri yang diawali dengan kajian. Dalam kajian umum ahad pagi tersebut, Ustadz Ahmad Tauhid Mafaza, M.Ag., sebagai pemateri membawakan tema seputar kekuatan doa orang tua. Kajian yang disajikan spesial untuk para wali santri ini berlangsung secara hikmat di dalam Masjid Ath-Thuflah, komplek PPIT Al-Huda Wonogiri.
Doa Orang Tua Tak Akan Pernah Sia-sia
Kajian umum ahad pagi diawali dengan sebuah pertanyaan, “Pernahkan bapak dan ibu merasa lelah mendoakan anaknya? Sudah didoakan setiap hari, tapi rasanya kok masih begitu-begitu saja, belum berubah seperti yang diharapkan?,” tanya pemateri.
Kemudian beliau melanjutkannya dengan memberi sebuah analogi bahwa berdoa itu seperti menanam benih. Ia berakar dahulu sebelum tumbuh. Buahnya mungkin belum nampak hari ini, namun tak satu pun doa akan berakhir sia-sia.
Doa seorang hamba tidak akan berakhir sia-sia sebab Allah SWT itu dekat dan pasti menjawab. Sebagaimana yang telah Allah SWT janjikan dalam firmannya, “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Hakikat Doa Orang Tua
Dalam penjelasannya, pemateri menyebutkan bahwa setidaknya ada dua hakikat doa orang tua bagi seorang anak;
Pertama, doa orang tua termasuk doa yang mustajab. Kemudian beliau menyitir sebuah sabda Nabi Muhammad SAW yang mengatakan bahwa ada “Tiga doa yang pasti akan dikabulkan; doa orang terdzalimi, doa seorang musafir, dan doa orang tua untuk anaknya.” (HR. Ibnu Majah)
Kedua, doa orang tua dapat mengubah jalan hidup anak (sesuai dengan ketetapan Allah SWT). Seperti yang dijelaskan dalam sebuah riwayat bahwa “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali kebaikan.” (HR. Tirmidzi)
“Bisa jadi saat ini anak-anak kita sedang kesulitan dalam belajar, kesulitan dalam menghafal, dan kesulitan dalam beradaptasi hidup di pondok, dan itu semua merupakan takdir dari Allah SWT. Tapi, dengan kita berdoa kepada Allah SWT untuk kemudahan anak-anak kita dalam belajar, menghafal, dan beradaptasi, takdir kesulitan yang semula Allah SWT tetapkan kepada anak kita seketika akan berubah menjadi kemudahan,” Jelas pemateri memberikan sebuah gambaran untuk menjelaskan makna dari hakikat doa orang tua.
Belajar dari Kisah Para Nabi dan Orang Shalih Terdahulu
Kisah Nabi Ibrahim dengan doanya dalam penantian panjang menunggu kehadiran lahirnya Nabi Ismail menjadi pelajaran pertama di poin ini. Dalam penantiannya, Nabi Ibrahim tak henti-hentinya meminta kepada Allah SWT untuk diberikan keturunan yang shalih dengan doanya, “Ya Rabb, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang salih.” (QS. Ash-Shaffat: 100)
Doa Nabi Ibrahim untuk diberi keturunan yang shalih ini diijabahi Allah SWT ketika beliau diuji dengan sebuah mimpi berupa perintah untuk menyembelih anak yang sudah berpuluh-puluh tahun ia nantikan. “Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” (QS. Ash-Shaffar: 102)
Jawaban Nabi Ismail yang terabadikan dalam ayat di atas menunjukkan keshalihannya sekaligus menjadi bukti terkabulnya doa Nabi Ibrahim.
Di kisah yang lain, pemateri juga memaparkan sebuah pelajaran berharga dari kisah ibunda Nabi Musa. Kisah yang menceritakan kekejaman fir’aun yang hendak membunuh semua bayi laki-laki di masa itu. Dalam kecemasan yang teramat sangat, sang ibu menghanyutkan bayinya ke sungai dan berharap dalam doa agar memberikan keselamatan padanya.
Doa itu pun dikabulkan oleh Allah SWT. Bayi yang hanyut itu pun diselamatkan dan diadopsi langsung oleh istri fir’aun. Namun karena sang bayi tak kunjung berhenti menangis dan tak ada satu pun pengasuh yang bisa menenangkannya, Allah SWT jadikan ibunda Nabi Musa sebagai pengasuhnya di dalam istana fir’aun.
Selain diberikan keselamatan, Allah SWT juga memberikan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya kepada Nabi Musa dan ibunya. Dan semua itu bermula dari doa seorang ibu untuk anak tercintanya.
Kisah berikutnya hadir dari pengorbanan ibunda Imam Asy-Syafi’i, baik secara materi maupun immateri, demi kesuksesan anaknya dalam menuntut ilmu. Rela meninggalkan kampung halaman di Gaza menuju Makkah, dengan jarak tempuh sekitar 1.500 km, demi belajar kepada guru-guru terbaik pada masa itu.
Allah SWT menjawab totalitas pengorbanan dari ibunda Imam Asy-Syafi’i yang dibarengi dengan doa-doa terbaik untuknya dengan menjadikan Imam Asy-Syafi’i sebagai salah satu dari empat imam madzhab fikih besar di Islam. Bahkan keberkahan doa sang ibu pun masih dapat kita rasakan di masa kini melalui ilmu-ilmu yang kita serap dari Imam Asy-Syafi’i.
Selanjutnya, kisah masa kecil Imam Abdurrahman As-Sudais menjadi penutup dari kisah-kisah insipiratif ini. Kisah yang mencerikan tentang seorang ibu yang mampu mengendalikan emosi dan tetap berkata baik saat marah. Kelakuan Imam Abdurrahman As-Sudais kecil yang menaburkan pasir tepat di atas hidangan yang telah ibunya siapkan, direspon bukan dengan kata-kata kasar. Melainkan dengan kalimat baik berupa doa agar anaknya kelak menjadi imam di Masjidil Haram.
Hingga akhirnya, doa itu pun terkabulkan dan dapat kita saksikan langsung pelaku sejarahnya dengan mata kepala kita sendiri. Dan sampai saat ini, anak kecil yang ada dalam kisah itu masih menjadi imam besar di dua masjid mulia, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Di akhir kisah ini, pemateri mengajak kepada orang tua untuk tetap berkata-kata baik kepada anak-anaknya, meski itu pada saat sedang marah. Karena kalimat yang terucap dari lisan kedua orang tua adalah doa bagi anak-anaknya.
Mengapa Doa Orang Tua Tidak Akan Pernah Sia-sia?
Setidaknya ada tiga alasan sekaligus jawaban dari pertanyaan mengapa doa orang tua itu tidak akan pernah sia-sia.
Pertama, doa tidak pernah hilang. Kalaulah doa yang kita panjatkan tidak pernah dikabulkan sesusai dengan yang kita minta, itu bukan berarti doa kita hilang dan sia-sia. Sejatinya, ia berpindah bentuk saja. Bisa berupa perlindungan, petunjuk, jawaban yang ditunda, atau bahkan diganti dengan pahala.
Kedua, Allah SWT tahu waktu yang terbaik. Karena tidak semua yang kita minta saat ini itu akan menjadi baik untuk dikabulkan saat ini juga. Justru Allah SWT sedang menyelamatkan kita dengan menundannya untuk dikabulkan. Sebab, bisa jadi kita belum siap dengan dikabulkannya permintaan yang kita minta sendiri.
Ketiga, berdoa adalah warisan spiritual. Sebagaimana kita yang mencontoh para ulama dan nabi yang mewariskan kebiasaan berdoa, seperti itu jugalah anak-anak kita akan mewarisinya dari kita sebagai orang tua mereka. Warisan itu akan menjadi salah satu tabungan terbaik kita kelak saat tubuh sudah terbaring di dalam tanah, sedangkan anak keturunan kita terus mengirimkan doa terbaiknya untuk kita tanpa kenal lelah.
Kajian yang berlangsung selama kurang lebih satu jam itu ditutup dengan pesan sekaligus ajakan kepada semua audien untuk tak henti-hentinya mendoakan anak-anak dan terkhusus untuk semua santri Al-Huda. “Karena salah satu kekuatan santri Al-Huda ada pada doa para orang tua,” jelas pemateri menutup kajian.
Wallaahu a’lamu bish shawab




