Berita Terbaru

PPIT Al-Huda Wonogiri Gelar Kajian Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448

Wonogiri, 24 Agustus 2026 | Humas PPIT Al-Huda

WONOGIRI – Pondok Pesantren Islam Terpadu Al-Huda Wonogiri menggelar agenda kajian dalam rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada Senin, 24 Agustus 2026. Kegiatan berlangsung di Lapangan Khalid bin Walid dan diikuti oleh seluruh santri. Kajian disampaikan langsung oleh Mudir PPIT Al-Huda Wonogiri, Ustadz Aryan Andika, S.Pd.I.

Memahami Makna Maulid dan Maulud

Dalam taujihnya, Mudir menjelaskan perbedaan makna antara maulid dan maulud. Maulid bermakna waktu atau peristiwa hari kelahiran. Maulud bermakna bayi atau sosok yang dilahirkan, yaitu Nabi Muhammad SAW.

“Kedua kata ini benar dan boleh digunakan,” jelas beliau.

Peringatan Maulid Nabi merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat dan rahmat terbesar dari Allah SWT, yaitu diutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia sebagai rahmatan lil ‘alamin.

“Kelahiran beliau adalah kebahagiaan, dan keberkahan. Wujud syukur kita adalah dengan meneladani akhlak Rasulullah, mengekspresikan cinta, dan memperbanyak shalawat kepada beliau,” pesan Mudir.

Dua Permisalan sebagai Renungan Hidup

Mudir menyampaikan dua permisalan yang menjadi bahan renungan bagi para santri.

Pertama, bayi yang baru lahir secara normal akan menangis, sementara orang-orang di sekitarnya justru tertawa, tersenyum terharu, bahkan ikut menangis karena bahagia.

Beliau mengajak para santri untuk mengisi hidup dengan perjuangan, pengabdian, dan menebar kasih sayang kepada sesama. Harapannya, keadaan kita saat wafat tidak seperti saat dilahirkan.

“Jangan sampai orang lain berbahagia atas kematian kita, sedangkan kita bersedih atas apa yang telah kita perbuat. Bahagiakan kedua orangtua. Buatlah orang-orang di sekitarmu bangga atas kehadiranmu. Sehingga kelak ketika kita meninggal, kita pergi dengan tersenyum, sedangkan mereka menangisi kepergian kita,” tegas beliau.

Sebagaimana dikatakan ahli hikmah:

وَلَدَتْكَ أُمُّكَ يَا ابْنَ آدَمَ بَاكِيًا # وَالنَّاسُ حَوْلَكَ يَضْحَكُونَ سُرُورًا

Ibumu melahirkanmu, wahai anak Adam, dalam keadaan menangis, sementara orang-orang di sekitarmu tertawa gembira.

فَاجْهَدْ لِنَفْسِكَ أَنْ تَكُونَ إِذَا بَكَوْا # فِي يَوْمِ مَوْتِكَ ضَاحِكًا مَسْرُورًا

Maka berjuanglah untuk dirimu, agar ketika mereka menangis di hari kematianmu, engkau pergi dalam keadaan tersenyum bahagia.”

Kedua, bayi yang baru lahir biasanya menggenggamkan tangannya dengan kuat. Ini seolah menjadi isyarat bahwa ia ingin menggenggam dan menguasai dunia. Namun ketika ajal tiba, genggaman itu terlepas. Tangan yang kuat menjadi tak berdaya, mengingatkan bahwa dunia tidak akan dibawa mati.

“Letakkan dunia di tangan, jangan di hati. Setetes air dunia, selaut akhirat,” pesan beliau.

Meneladani Akhlak Nabi Hingga di Surga

Melalui agenda kajian ini, Mudir berharap para santri dapat mengambil hikmah tentang makna kelahiran, kehidupan, dan kematian. Semoga Nabi Muhammad SAW senantiasa menjadi teladan dalam setiap sendi kehidupan di dunia.

“Kami berdoa semoga kelak kita selamat sampai ke kampung akhirat, mendapatkan syafaat beliau, dan cita-cita kita bersama dapat berkumpul dengan Baginda Nabi Muhammad SAW di surga Allah SWT. Aamiin,” tutup Mudir.

Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H / 2026 M
Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad. Baarakallahu fiikum.

Admin

ppitalhuda

Pondok pesantren dengan tahfidz Al-Qur'an metode Ummi di Wonogiri, membina santri hafal Qur'an dan berakhlak mulia.

Tinggalkan Balasan

Solverwp- WordPress Theme and Plugin